Sunday, September 9, 2012

Kisah/Story of Mush' ab bin Umair

Indonesian

Mush' ab bin Umair

Suatu hari, Mush'ab bin Umair mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam.

Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Alquran dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar.

Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Alqur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat, Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush'ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri.

Bahkan walau seluruh penduduk Makkah beserta berhala-berhala para pembesar dan padang pasirnya berubah rupa menjadi suatu kekuatan yang menakutkan yang hendak menyerang dan menghancurkannya, tentulah Mush'ab akan menganggapnya enteng. Tapi tantangan dari ibunya, bagi Mush'ab tidak dapat dianggap kecil. Ia pun segera berpikir keras dan mengambil keputusan untuk menyembunyikan keislamannya sampai terjadi sesuatu yang dikehendaki Allah.

Demikianlah ia senantiasa bolak-balik ke rumah Arqam menghadiri majelis Rasulullah, sedang hatinya merasa bahagia dengan keimanan dan sedia menebusnya dengan amarah murka ibunya yang belum mengetahui berita keislamannya. Tetapi di kota Makkah tiada rahasia yang tersembunyi, apalagi dalam suasana seperti itu. Mata kaum Quraisy berkeliaran di mana-mana mengikuti setiap langkah dan menyelusuri setiap jejak. Kebetulan seorang yang bernama Utsman bin Thalhah melihat Mush'ab memasuki rumah Arqam secara sembunyi. Kemudian pada hari yang lain dilihatnya pula ia shalat seperti Muhammad SAW. Secepat kilat ia mendapatkan ibu Mush'ab dan melaporkan berita yang dijamin kebenarannya.

Berdirilah Mush'ab di hadapan ibu dan keluarganya serta para pembesar Makkah yang berkumpul di rumahnya. Dengan hati yang yakin dan pasti dibacakannya ayat-ayat Alquran yang disampaikan Rasulullah untuk mencuci hati nurani mereka, mengisinya dengan hikmah dan kemuliaan, kejujuran dan ketakwaan.

Ketika sang ibu hendak membungkam mulut putranya dengan tamparan keras, tiba-tiba tangan yang terulur bagai anak panah itu surut dan jatuh terkulai, ketika melihat cahaya yang membuat wajah putranya berseri cemerlang itu kian berwibawa. Karena rasa keibuannya, ibunda Mush'ab tak jadi menyakiti putranya. Dibawalah puteranya itu ke suatu tempat terpencil di rumahnya, lalu dikurung dan dipenjarakannya dengan rapat.

Demikianlah beberapa lama Mush'ab tinggal dalam kurungan sampai saat beberapa orang Muslimin hijrah ke Habasyah. Mendengar berita hijrah ini Mush'ab pun mencari muslihat, dan berhasil mengelabui ibu dan penjaga-penjaganya, lalu pergi ke Habasyah melindungkan diri. Ia tinggal di sana bersama saudara-saudaranya kaum Muslimin, lalu pulang ke Makkah. Kemudian ia pergi lagi hijrah kedua kalinya bersama para sahabat atas titah Rasulullah dan karena taat kepadanya.

Pada Suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang Muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi.

Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, "Dahulu aku lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Suatu saat Mush'ab dipilih Rasulullah untuk melakukan suatu tugas maha penting saat itu. Ia menjadi duta atau utusan Rasul ke Madinah untuk mengajarkan agama Islam kepada orang-orang Anshar yang telah beriman dan berbaiat kepada Rasulullah di bukit Aqabah. Di samping itu, ia juga mempersiapkan kota Madinah untuk menyambut hijrah Rasulullah sebagai peristiwa besar.

Sebenarnya, di kalangan sahabat ketika itu masih banyak yang lebih tua, lebih berpengaruh dan lebih dekat hubungan kekeluargaannya dengan Rasulullah daripada Mush'ab. Tetapi Rasulullah menjatuhkan pilihannya kepada Mush'ab. Dan bukan tidak menyadari sepenuhnya bahwa beliau telah memikulkan tugas amat penting ke atas pundak pemuda itu dan menyerahkan kepadanya tanggung jawab nasib Agama Islam di kota Madinah.

Mush'ab memikul amant itu dengan bekal karunia Allah kepadanya, berupa pikiran yang cerdas dan budi yang luhur. Dengan sifat zuhud, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil melunakkan dan menawan hati penduduk Madinah hingga mereka berduyun-duyun masuk Islam. Ketika tiba di Madinah pertama kali, ia mendapati kaum Muslimin tidak lebih dari dua belas orang, yakni hanya orang-orang yang telah baiat di bukit Aqabah. Namun beberapa bulan kemudian, meningkatlah jumlah orang-orang yang memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Mush'ab memahami tugas dengan sepenuhnya, hingga tak terlanjur melampaui batas yang telah diterapkan. Ia sadar bahwa tugasnya adalah menyeru kepada Allah, menyampaikan berita gembira lahirnya suatu agama yang mengajak manusia mencapai hidayah Allah, membimbing mereka ke jalan yang lurus. Akhlaknya mengikuti pola hidup Rasulullah SAW yang diimaninya yang mengemban kewajiban hanya menyampaikan belaka. Demikianlah duta Rasulullah yang pertama itu telah mencapai hasil gemilang yang tiada taranya, suatu keberhasilan yang memang wajar dan layak diperolehnya.

Dalam Perang Uhud, Mush'ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri.

Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush'ab hingga putus, sementara Mush'ab meneriakkan, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul."

Maka Mush'ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush'ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul."

Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada.

Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya.

Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!"

Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, "Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah."

Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, "Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!"

Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, Rasulullah bersabda, "Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya."

 English

                                                                   Mush 'ab ibn Umair

One day, Mush 'ab ibn Umair heard the news that has been widespread among citizens of Makkah about Muhammad Al-Amin, who said he had been sent by God as a messenger and bad, as a preacher who invites people to worship Allah the Almighty.Among the news he heard was that the Messenger of Allah with their followers been meeting in a place away from distractions to avoid the hordes of Quraish and threats, which is in the hills of Safa at home Arqam ibn Abil Arqam.So one evening, driven by his desire, he went to the house of Arqam accompany the group. In place of the Prophet Muhammad was often met with his friends, they teach the Quranic verses and invite them to worship the Almighty Allah Akbar.Just Mus'ab take his seat, the verses of Qur'an began to flow out of the hearts of the Prophet echoed through both lips and reached the ears, soak in the hearts of the listeners. At dusk it Mus'ab was fascinated by the Prophet exact phrase strands meet targets in his heart.Khunas bint Malik that Mus'ab's mother, was a strong personality and uncompromising stance or inviolable, he respected her even feared. When Mus'ab embraced Islam, no one forces any of the dreaded and feared than her own mother.Even though the entire population of Makkah and their idols desert princes and transfigured into a fearsome force to attack and destroy, Mus'ab will surely take it lightly. But the challenge of his mother, to Mus'ab can not be considered small. He immediately thought hard and decided to hide his Islam until there is something that is willed by God.Thus he continues to commute to attend assemblies Arqam house of Allah, was happy with his faith and willing to make up with her mother's anger wrath who do not know their Islam news. But in the city of Makkah no hidden secret, especially in such an atmosphere. Quraysh eyes wandering everywhere to follow every step and scour every trail. Incidentally a man named Uthman ibn Talha saw Mus'ab Arqam secretly entered the house. Then the other day he also saw prayer as Muhammad. Quick as a flash he got Mus'ab's mother and vouched for news reporting.Mus'ab's mother stood in front of families and dignitaries gathered in his home Makkah. With a heart that believes and certainly reading of Quranic verses Allah conveyed to wash their conscience, filled with wisdom and dignity, honesty and piety.When his son's mother wanted her mouth with a loud slap, suddenly outstretched hand like an arrow receded and fell limp, when he saw his son's face light makes it glow bright increasingly authoritative. Because the sense of motherhood, Mus'ab's mother was so hurt his son. His son was brought to a secluded spot in the house, they locked up and imprisoned by the meeting.So some old Mus'ab lived in captivity until some Muslims migrated to Habasyah. Hearing the news of this move Mus'ab was looking for deception, and managed to fool mother and guard-guard, then go to Habasyah safeguard themselves. He lived there with his brothers the Muslims, then returned to Makkah. Then he moved away again the second time with his friends at the commandment of Allah and obedience to him.In one day he appeared before a couple of people who were sitting around the Muslim Prophet Muhammad. Demi looked Mus'ab, bowed their heads and closed their eyes, while some eyes wet with grief. They saw Mus'ab tattered robes patched, but not yet lost their memory-clothes before entering Islam-not unlike like a flower in the garden, colorful and fragrant odors dissipate.The Prophet, looked at her meaningfully, with love and gratitude in the heart. In glorious smile tugged up his lips, and said, "Once I saw Mus'ab's nothing that offset the gain pleasure from his parents, and then left it all for the love of Allah and His Messenger."One day Mus'ab chosen Prophet to perform a task when it's all important. He became an ambassador or envoy Prophet to Medina to teach Islam to the people who have faith and Ansar to the Prophet in the hills berbaiat Aqabah. In addition, he is also preparing to welcome the city of Madinah the Prophet migrated as a major event.Actually, among friends when it was still a lot of older, more powerful and closer relationship with Allah than Mus'ab kekeluargaannya. But the Prophet decided to throw to Mus'ab. And it is not fully aware that he has a very important task to impose upon the young man's shoulder and gave him responsibility for the fate of Islam in the city of Medina.Mus'ab bear Amant was armed with God's gift to him, in the form of an intelligent mind and a noble mind. With the ascetic nature, honesty and sincerity, he managed to soften the hearts of the people of Medina and charming until they are flocking to Islam. When it first arrived in Madinah, he found that the Muslims are not more than twelve people, the only people who have allegiance at Aqabah hill. But a few months later, meningkatlah number of people who meet the call of Allah and His Messenger.Mus'ab understand the task fully, until he crossed the line already been applied. He realized that his job was calling to God, deliver tidbit birth of a religion that invites people achieve the guidance of Allah, guide them to the straight path. Depraved lifestyle to follow the Prophet Muhammad in a loving who carry liability only deliver alone. Thus, the first ambassador of the Prophet that have achieved brilliant results are unequaled, a success that is reasonable and deserves.In the battle of Uhud, Mus'ab bin Umair was one of the heroes and war flag bearer. When things are critical for Muslims to forget the command of the Prophet, then he raised the flag of the highest and bertakbir bloody murder, then go up against the enemy. The target is to attract the enemy's attention to him and forget about the Prophet Muhammad. Thus he formed the army by himself.Suddenly an enemy named Ibn Qumaiah came on horseback and slashing Mus'ab hand to drop, while Mus'ab shouted, "Muhammad is no more just a messenger, who was preceded by several of the Apostles."So Mus'ab holding a flag with his left hand while bending protection. The enemy had cut down his left hand to drop it anyway. Mus'ab leaned toward the flag, then the second base of the arm grab to the chest while saying, "Muhammad is no more just an Apostle, and was preceded by several of the Apostles."Then the horse was attacked three times with a spear, and thrust the spear was broken up. Mus'ab was killed, and the flag fell. He died as a star and crown of the martyrs.Prophet with his companions came reviewing the battlefield to deliver a farewell to the martyrs. When he reached the bodies of Mus'ab terbaringnya place, bercucuranlah with heavy tears.There was a piece of cloth to cover his body other than a Burdah. If placed on his head, opened his legs. Conversely, if it is closed on his feet, opened his head. Then the Prophet said, "Tutupkanlah to the head, and legs close to the grass idzkhir!"Then, looking at the Burdah used for cloth covering it, the Prophet said, "When in Makkah first, no one I see finer clothes and hair neater thereof. But now, with the disheveled hair, clad in only a Burdah. 'Having looked around, toward the battlefield and the martyrs, Mus'ab comrades lying on it, the Prophet exclaimed, "Truly, the Messenger will be a witness later in the day, that you are all martyrs in Allah!"Then he turned to friends who are still alive, the Prophet said, "O people, berziarahlah and Pay a visit to them, and say hello! By God who controlled my life, no Muslim till doomsday saluted them, surely they will reciprocate . "

No comments: